Indeks

Viral Berakhir Damai, Siswa SMAN 1 Purwakarta Jalani Pembinaan Intensif

PINTUJABAR.COM || PURWAKARTA – Siswa-siswi SMAN 1 Purwakarta yang sempat viral di berbagai media sosial akibat tindakan kurang sopan terhadap gurunya akhirnya menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf secara terbuka. Langkah ini dilakukan setelah peristiwa tersebut menuai perhatian luas dan menjadi sorotan publik.

Dalam pernyataannya, para siswa mengakui kekhilafan dan menyesali perbuatan mereka yang dinilai tidak pantas. Mereka menyadari bahwa tindakan tersebut telah menyinggung institusi pendidikan serta masyarakat luas.

Permohonan maaf disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab atas sikap yang tidak mencerminkan etika seorang pelajar. Mereka juga berharap kejadian ini dapat menjadi pelajaran penting agar tidak terulang di kemudian hari.

Publik yang sebelumnya ramai membicarakan kasus ini diharapkan dapat meredakan responsnya setelah adanya itikad baik dari para siswa. Permintaan maaf tersebut menjadi langkah awal untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap lingkungan sekolah.

Sementara itu, Frima selaku staf humas SMAN 1 Purwakarta saat ditemui media pada Selasa (21/04/2026) menjelaskan bahwa pihak sekolah telah mengambil langkah pembinaan terhadap para siswa. Pembinaan tersebut dilakukan melalui kegiatan kebersihan, pendampingan wali kelas, serta sesi bersama psikolog.

Ia menambahkan bahwa kondisi mental para siswa juga menjadi perhatian utama, mengingat dampak dari viralnya video tersebut. Sekolah berupaya memastikan para siswa tetap mendapatkan bimbingan yang tepat agar dapat memperbaiki sikap dan perilaku mereka.

Terkait guru yang menjadi korban, yakni Ibu Atun, Frima menyebutkan bahwa yang bersangkutan menunjukkan sikap luar biasa dengan memaafkan para siswa. Ia tidak berniat membawa kasus ini ke jalur hukum karena memandang para siswa sebagai anak didiknya yang masih perlu dibimbing, terlebih sebagai guru PKN yang menjunjung nilai moral.

Di sisi lain, Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM menyarankan agar sembilan siswa tersebut menjalani pembinaan selama tiga bulan melalui kegiatan sosial dan pembelajaran.

Ia juga menegaskan bahwa peristiwa ini harus menjadi refleksi bersama, bahwa pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab guru, tetapi juga orang tua, lingkungan, media sosial, dan masyarakat luas.

Exit mobile version