Berita  

Dharma Santi Nyepi 1948 Saka, Momentum Refleksi dan Silaturahmi di Purwakarta

PINTUJABAR.COM|| PURWAKARTA – Dharma Santi dalam rangka Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948/2026 digelar khidmat di Pendopo Maya Datar Pemerintah Kabupaten Purwakarta pada Sabtu (18/04/2026).

Acara ini dihadiri oleh Bupati Purwakarta, perwakilan dari Kementerian Agama, Kejaksaan Negeri Purwakarta, Dandim 0619 Purwakarta, Kapolres Purwakarta yang diwakili Wakapolres, Ketua MUI Purwakarta, serta perwakilan lintas agama dan umat Hindu di daerah tersebut.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Kabupaten Purwakarta, I Komang Supranata, menyampaikan bahwa Dharma Santi merupakan rangkaian terakhir dalam perayaan Hari Raya Nyepi. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini dikenal sebagai “Dharma Santi” yang memiliki makna utama sebagai ajang silaturahmi antarumat.

Menurutnya, Dharma Santi menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan antara umat Hindu di Purwakarta dengan pemerintah daerah serta masyarakat umum. “Tujuan utamanya adalah silaturahmi, saling bertemu dan menyapa,” ujarnya wartawan pintujabar.com.

Baca juga :  Jaringan Cafe di Purwakarta bergerak Pray for Sukabumi

Ia juga menjelaskan bahwa dalam tradisi Hindu, Tahun Baru Saka menjadi refleksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik ke depan. Budaya tersebut dikenal dengan istilah “simakrama,” yang berarti mempererat kebersamaan dan keharmonisan dalam kehidupan sosial.

Dalam kesempatan itu, I Komang Supranata mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Purwakarta yang telah menginisiasi dan memfasilitasi terselenggaranya kegiatan ini. Ia menyebut perhatian pemerintah sangat berarti bagi umat Hindu yang jumlahnya relatif sedikit di wilayah tersebut.

Ia berharap ke depan kegiatan Dharma Santi dapat terus dilaksanakan setiap tahun. Selain itu, umat Hindu juga berharap dapat selalu dilibatkan dalam berbagai agenda pemerintah daerah, meskipun dengan kontribusi yang sederhana.

Baca juga :  Warga Panorama Senam Bersama Calon Bupati Purwakarta No urut 1 Saipul Bahri Binzein

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Hari Suci Nyepi merupakan pergantian Tahun Baru Saka dalam kalender Hindu. Hari raya ini memiliki makna serupa dengan perayaan tahun baru pada agama lain, namun dilaksanakan dengan cara yang khas, yaitu melalui keheningan.

Nyepi sendiri merupakan satu-satunya hari raya Hindu yang ditetapkan sebagai hari libur nasional di Indonesia. Meski memiliki beragam tradisi, terutama di Bali, esensi Nyepi tetap diakui secara nasional sebagai hari refleksi dan penyucian diri.

Rangkaian kegiatan Nyepi di Purwakarta diawali dengan program sosial “Boga Sewanam,” yakni berbagi kasih kepada sesama. Dalam momentum bulan Ramadan, umat Hindu membagikan takjil kepada masyarakat sekitar sebagai bentuk toleransi dan kebersamaan antarumat beragama.

Baca juga :  Pasca Idul Fitri 1445 H, Inflasi Sultra Stabil Terkendali Di Bawah Rata-Rata Nasional

Selain itu, kegiatan sosial lain seperti kerja bakti lingkungan juga dilaksanakan. Menjelang puncak Nyepi, umat Hindu menggelar ritual Tawur Agung Kesanga pada 18 Maret 2026 sebagai bentuk penyucian alam semesta.

Di akhir penyampaiannya, I Komang Supranata mengajak seluruh umat Hindu di Purwakarta untuk terus berkontribusi dalam pembangunan daerah sesuai kemampuan masing-masing. Ia juga berharap ke depan umat Hindu dapat memiliki pura sebagai tempat ibadah tetap, seiring rencana pengembangan wisata religi di Purwakarta. (Tedi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *