Budaya  

Museum Talaga Manggung Berbenah, Perkuat Fungsi Edukasi dan Pelestarian Budaya

MAJALENGKA – Menjelang pelaksanaan tradisi sakral Nyiramkeun Pusaka pada 3 Agustus 2026, Museum Talaga Manggung mulai melakukan pembenahan serius.
Langkah ini bukan sekadar persiapan seremoni, tetapi bagian dari upaya nyata menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.

Pembenahan dilakukan pada berbagai aspek, mulai dari penataan ruang, perawatan benda pusaka, hingga penguatan fungsi museum sebagai pusat edukasi budaya. Hari ini, proses tersebut memasuki tahap penting melalui kegiatan pemetaan posisi benda pusaka, sebagai bagian dari penataan yang lebih sistematis dan berbasis kajian.

Kegiatan ini melibatkan putra daerah, TB Hasanudin, bersama Nina Herlina Lubis, seorang peneliti dan ahli sejarah yang telah lama mengkaji peninggalan Talaga Manggung serta menuliskannya dalam berbagai karya ilmiah. Kehadiran Prof. Nina Lubis, sebagai perempuan Sunda dengan rekam jejak akademik yang kuat, mempertegas bahwa pembenahan ini dilakukan secara serius dan berbasis keilmuan.

Baca juga :  Karuhun Dipapag, Rasa Ditegakkan: Nyiramkeun Pusaka Talaga Manggung 2026

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, anggota DPRD Majalengka dari Komisi IV, Tita Juwita Hapsiah, sebagai bentuk dukungan legislatif terhadap pelestarian budaya daerah. Kehadiran unsur DPRD ini dinilai penting untuk mendorong sinergi antara pelestarian sejarah dan kebijakan pembangunan daerah.

Pemetaan pusaka menjadi langkah strategis, agar setiap benda peninggalan leluhur tidak hanya tersimpan, tetapi memiliki identitas, posisi, dan narasi yang jelas. Dengan demikian, museum tidak hanya menjadi ruang penyimpanan, tetapi juga pusat pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Perhatian terhadap pelestarian ini menunjukkan bahwa warisan budaya membutuhkan kolaborasi—antara kepedulian putra daerah, ketelitian akademisi, dan dukungan kebijakan dari pemerintah. Ketiganya menjadi fondasi penting dalam menjaga keaslian dan makna sejarah.

Baca juga :  Kades Dangdeur Gaungkan Pelestarian Budaya Lewat Mipit Nyi Pohaci

Momentum Nyiramkeun Pusaka pada 3 Agustus 2026 pun dipandang sebagai titik penting untuk menguatkan kembali kesadaran kolektif masyarakat terhadap nilai tradisi. Di tengah modernisasi, keberadaan situs budaya tidak boleh terpinggirkan.

Museum Talaga Manggung kini tidak hanya bersiap sebagai lokasi kegiatan, tetapi juga sebagai simbol keteguhan dalam menjaga jejak leluhur.

Pembenahan ini menjadi pesan tegas: bahwa warisan budaya tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan, melainkan harus menjadi bagian hidup dari masyarakat itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *