PUNTUJABAR.COM || Ribuan jamaah dari berbagai daerah memadati Desa Sempur, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, pada Minggu (26/4/2026) dalam rangka peringatan Haul Akbar Mama Sempur ke-51.
Kegiatan religius tahunan ini kembali menjadi magnet spiritual sekaligus sosial yang memperkuat nilai keislaman dan kebersamaan umat.
Acara haul kali ini menghadirkan sejumlah ulama terkemuka sebagai penceramah, di antaranya Al Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan dari Yayasan Al-Fachriyah Tangerang, K.H. Tubagus Imam Ibrahim dari Kesultanan Banten, serta K.H. Khoirul Jaza, pengasuh Pondok Pesantren Al Wardayani Sukabumi.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan tahlil dan manaqib yang dipimpin oleh cucu Mama Sempur, Tubagus Zein Al Bakri bin Mama Dudus, yang berlangsung khidmat dan penuh kekhusyukan.
Sosok Mama Sempur: Ulama Penyebar Syi’ar Islam Mama Sempur, yang memiliki nama asli Tubagus Ahmad Bakri bin Tubagus Sayyida, dikenal sebagai ulama besar yang berperan penting dalam penyebaran syi’ar Islam di wilayah Purwakarta.
Murid-murid beliau tersebar luas di berbagai penjuru Nusantara, menjadikannya sebagai salah satu tokoh sentral dalam perkembangan dakwah Islam di Indonesia.
Selain dikenal sebagai ahli ilmu, Mama Sempur juga dijuluki sebagai Guru Peradaban karena ajarannya yang menekankan keseimbangan antara ilmu dan adab.
Nasab beliau tersambung hingga Nabi Muhammad SAW melalui jalur Kesultanan Banten, serta memiliki garis keturunan dengan Prabu Siliwangi, tokoh legendaris Sunda.
Tak heran jika setiap pelaksanaan haulnya selalu dipadati jamaah, yang juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat sekitar, khususnya di wilayah Plered.
Sorotan Isu Adab Siswa di Purwakarta
Momentum haul tahun ini juga menjadi ruang refleksi terhadap kondisi sosial terkini, khususnya terkait adab generasi muda. Belakangan ini, publik dihebohkan oleh peristiwa viral di salah satu sekolah di Purwakarta, di mana sejumlah siswa melakukan tindakan perundungan terhadap seorang guru.
Peristiwa tersebut menuai reaksi luas dari masyarakat yang menilai tindakan tersebut sebagai bentuk krisis adab di kalangan pelajar. Bahkan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti turut memberikan perhatian terhadap kasus ini.
Meski para siswa telah meminta maaf dan mendapatkan sanksi, serta guru yang bersangkutan telah memaafkan, peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya pendidikan karakter.
Aa Komara: Pendidikan Sejarah Lokal Kunci Pembentukan Adab
Menanggapi hal tersebut, Aa Komara, Founder BELA Purwakarta yang juga hadir dalam acara haul, menekankan pentingnya penguatan pendidikan berbasis sejarah lokal sebagai solusi jangka panjang.
Ia mengajak pemerintah dan institusi pendidikan untuk lebih mengenalkan para pelajar pada sejarah daerahnya sendiri, termasuk tokoh-tokoh besar seperti Mama Sempur.
“Pelajar harus diajak memahami betapa besar peran para ulama dan guru dalam membentuk peradaban. Dari sana akan tumbuh rasa hormat dan kesadaran akan pentingnya adab,” ujarnya.
Aa Komara juga mengusulkan agar kisah keteladanan Mama Sempur dan tokoh lainnya dimasukkan ke dalam kurikulum muatan lokal.
Selain itu, ia mendorong adanya program outing class ke situs-situs bersejarah seperti makam Mama Sempur di Plered, Syekh Baing Yusuf di Kaum, hingga Dalem Sholawat di Bogor.
Menariknya, ia menekankan bahwa kegiatan tersebut harus gratis dan tidak membebani siswa. Ia bahkan mengusulkan pemanfaatan kendaraan dinas milik pemerintah daerah sebagai sarana transportasi edukatif.
“Dengan begitu, kendaraan dinas tidak hanya digunakan untuk kegiatan seremonial, tapi juga untuk kepentingan pendidikan sejarah bagi generasi muda,” tambahnya.
Harapan: Generasi Berilmu dan Beradab
Melalui kegiatan haul ini, diharapkan masyarakat, khususnya generasi muda, dapat meneladani nilai-nilai yang diwariskan Mama Sempur—yakni pentingnya keseimbangan antara ilmu dan adab.
“Selamat dan sukses atas terselenggaranya Haul Akbar Mama Sempur ke-51. Semoga masyarakat Purwakarta dan Indonesia semakin berilmu dan beradab melalui keteladanan nyata dari para ulama dan pemimpin umat,” pungkas Aa Komara. ***







