PINTUJABAR.COM || PURWAKARTA – Seni budaya di Kabupaten Purwakarta kian menunjukkan perkembangan yang menjanjikan. Hal ini terlihat dari langkah aktif Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Kebudayaan (DISPORAPARBUD) dalam merangkul para pelaku seni untuk bersama-sama membangun ekosistem budaya yang berkelanjutan.
Kepala DISPORAPARBUD Purwakarta, Dr. Aep Durohman, menerima langsung kunjungan dua tokoh seni budaya pencak silat tradisi dalam suasana santai namun penuh makna. Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog terbuka untuk menyerap aspirasi sekaligus merumuskan langkah strategis pengembangan seni budaya daerah.
Hadir dalam kesempatan tersebut Dodi Suhada Akum, Guru Besar Perguruan Pencak Silat Lugay Kancana, serta Sri Mulyani atau yang akrab disapa Bunda Laras, pelatih Sanggar Widya Lokamanik dan guru kesenian di SDN 1 Cimahi, Kecamatan Campaka. Turut mendampingi, Kepala Bidang Pariwisata, Dodi Samsul Bahri.
Dalam diskusi yang berlangsung fokus, berbagai program strategis dibahas secara mendalam. Salah satu agenda utama yang disampaikan adalah rencana pelaksanaan Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) penari Jaipong yang dijadwalkan berlangsung pada Mei 2026. Kegiatan ini melibatkan peserta didik dari berbagai jenjang usia, mulai dari anak-anak hingga remaja.
UKT Jaipong tersebut dirancang tidak sekadar sebagai evaluasi kemampuan teknis, tetapi juga sebagai panggung ekspresi seni. Para peserta yang merupakan binaan Sanggar Widya Lokamanik akan menampilkan hasil latihan mereka dalam balutan seni tradisional khas Sunda. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bagian penting dalam membentuk karakter, kedisiplinan, serta menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak dini.
Tak hanya itu, pembahasan juga mengarah pada rencana besar penyelenggaraan Kejuaraan Seni Pencak Silat Tradisi di Purwakarta. Program ini diharapkan mampu menjadi agenda unggulan daerah yang tidak hanya menghadirkan kompetisi, tetapi juga memperkuat nilai-nilai luhur pencak silat sebagai warisan budaya bangsa.
Menurut Dodi Suhada Akum, kejuaraan tersebut memiliki potensi besar untuk berkembang hingga ke tingkat Jawa Barat bahkan nasional. Ia menegaskan kesiapan komunitas pencak silat untuk berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam mewujudkan event yang berkualitas dan berdaya saing tinggi.
“Ini bukan sekadar kejuaraan, tetapi momentum kebangkitan identitas budaya. Jika dikemas dengan baik, Purwakarta bisa menjadi pusat pencak silat tradisi yang diperhitungkan,” ujarnya.
Sementara itu, dari perspektif pariwisata, Dodi Samsul Bahri melihat peluang besar dalam mengintegrasikan seni pertunjukan dan olahraga tradisional sebagai daya tarik wisata. Menurutnya, kejuaraan pencak silat tradisi dapat dikemas menjadi event budaya yang mampu menarik wisatawan sekaligus memberikan pengalaman autentik.
“Jika dikolaborasikan dengan konsep event yang matang, ini bisa menjadi magnet wisata. Tidak hanya tontonan, tetapi juga pengalaman budaya yang utuh bagi pengunjung,” ungkapnya.
Dr. Aep Durohman sendiri menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang kolaborasi dengan para pelaku seni. Selain sebagai kepala dinas, perannya sebagai Ketua Paguyuban Pasundan Wilayah Purwakarta turut memperkuat tekadnya dalam menjaga dan mengembangkan budaya Sunda di tengah arus modernisasi.
Dengan sinergi yang terbangun antara pemerintah dan komunitas seni, Purwakarta optimistis mampu menghadirkan program budaya yang tidak hanya berdampak pada pelestarian, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan sektor pariwisata.
Ke depan, Purwakarta tidak hanya ingin dikenal sebagai daerah dengan kekayaan budaya, tetapi juga sebagai pusat kegiatan seni tradisional yang aktif, inovatif, dan berdaya saing. Sebuah langkah nyata menuju panggung yang lebih luas, di mana identitas budaya lokal tetap kuat dan relevan di era modern. ( Td)







